Card image cap
Sebaiknya, Hindari Hal Ini Dalam Mendidik Anak

GENOTA.ID - Ada banyak hal yang bisa dipelajari anak-anak dari orang tuanya. Mulai dari kedisiplinan, ketangguhan, ketekunan, cara bertanggung jawab, sikap empati, atau pun pantang menyerah. Oleh karenanya, kehadiran ayah dalam mendidik anak-anak sangat dibutuhkan. Keterlibatannya dalam mengasuh anak dapat membawa dampak positif, seperti peningkatan perilaku baik atau prestasi akademik anak.

Oleh karena itu, perlu pendekatan yang tepat dalam mendidik anak-anaknya. Kesalahan yang dilakukan seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya, akan menjadi hambatan bagi anak-anak sendiri di masa depan.

Berikut, yang sebaiknya dihindari oleh seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya, yakni:

1.    Mendisiplinkan Anak dengan Kemarahan.

Tak dapat dipungkiri, menjadi ayah yang sabar memang tidak mudah. Akan tetapi, Anda bukannya tidak boleh marah, kok. Marah adalah emosi normal yang bisa dirasakan oleh setiap manusia, termasuk orang tua. Hanya saja, Anda harus menyelesaikan dulu kemarahan Anda sebelum berinteraksi dengan anak.

Saat marah, Anda tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik. Anak pun juga akan menurut sejenak hanya karena agar Anda berhenti mengomel atau membentak, bukan karena ia mengakui kesalahannya.

Jadi, saat kemarahannya sudah sampai klimaks, ambil waktu jeda dulu untuk menyingkir dari anak. Kembali lagi kalau Anda sudah tenang dan bisa bicara dengan si kecil. Anak-anak paling baik merespons pendekatan yang tenang.

2.    Memberi Hukuman Fisik pada Anak.

Memukul, menjewer, mencubit, mendorong anak, waduh, jangan sampai. Apa pun alasannya, cara ini tidak akan efektif. Ini mengajarkan seorang anak, bahwa cara menghadapi konflik adalah dengan menggunakan kekuatan fisik. Ingat, peran utama Anda adalah guru.

3.    Tidak Konsisten.

Kadang boleh begini, kadang tidak boleh. Kadang si kecil harus menerima konsekuensi karena telah melakukan sesuatu, kadang juga dibebaskan. Intinya, orang tua tidak konsisten dalam menerapkan aturan dan konsekuensi.

Kadang-kadang, aturan ditegakkan sesuai mood orang tua. Kalau lagi pusing, semua-semua dilarang. Kalau lagi bahagia, semua pun diizinkan. Anak akan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang diharapkan. Anak akan merasa hidup dalam ketidakpastian. Itu membuat mereka cemas. Konsistenlah dalam menjalankan aturan dan konsekuensi yang sudah disepakati bersama keluarga.

4.    Menyuap Anak.

Menjanjikan anak sesuatu seperti hadiah agar ia mau melakukan seusatu atau berperilaku sesuai keinginan Anda sama saja dengan menyuap. Hal tersebut hanya mengajarkan seorang anak menjadi rendah diri. Karena berpikir bahwa mereka baru pantas mendapatkan hadiah jika mematuhi orang tuanya saja. Atau sebaliknya, mereka juga malah akan berpikir bahwa mereka harus mendapatkan hadiah untuk setiap hal yang disukai orang tuanya. Selain itu, memanjakan anak dengan hadiah juga punya beberapa dampak buruk lainnya.

5.    Memberikan Konsekuensi yang Tidak Berhubungan dengan Kesalahan Anak. 

     Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua. Orang tua perlu belajar, bahwa salah satu cara mendisiplinkan anak yang efektif adalah melalui pemberian konsekuensi yang sesuai dengan kesalahannya. Misalnya, bila anak tidak mau membereskan mainannya sendiri.

Cara mendisiplinkannya bukan dengan membuang mainan mereka, melainkan dengan membiarkan kamar mereka tetap berantakan. Sehingga mereka tidak nyaman atau kesulitan mencari barang. Atau, bila anak melanggar aturan screen time, konsekuensi yang tepat bukanlah dengan merampas gadget-nya. Melainkan dengan mengurangi durasi screen time mereka berikutnya.

6.    Jangan Pernah Membuat Anak Tidak Menghargai Bundanya.

Salah satu masalah yang sering terjadi adalah tidak kompaknya ayah dan Bunda dalam menerapkan aturan dan konsekuensi. Hal ini bisa terjadi ketika orang tua malah memberikan keringanan saat bunda berusaha tegas pada anak. Tak hanya itu, orang tua juga bisa saja membebaskan anak dan menganggap aturan itu tak berlaku. Padahal, sangat penting bagi kedua orang tua untuk konsisten dalam mengasuh dan mendisiplinkan anak. Selain membuat anak bingung mengenai aturan yang berlaku, hal ini juga akan melatih mereka untuk tidak menghargai Bundanya.

7.    Jangan Ragu dengan Peran Anda.

Jangan merasa berkewajiban untuk mendapatkan persetujuan anak Anda untuk disiplin yang Anda terapkan. Anda adalah orang tua dan memiliki tanggung jawab untuk mendisiplinkan. Peraturan dan konsekuensi di dalam keluarga memang harus didiskusikan bersama dulu dengan semua orang, termasuk anak sendiri.

8.    Membuat Anak Merasa Bersalah.

Saat sedang kesal pada anak, tak jarang orang tua membuat anak merasa bersalah karena harus membuat orang tuanya berkorban. Anak tidak harus bertanggung jawab atas apa yang Anda alami atau apa yang Anda rasakan.

9.    Menceramahi Anak.

Menceramahi anak atas kesalahan yang mereka lakukan biasanya hanya akan menghasilkan kebencian daripada pembelajaran. Pendekatan yang lebih baik untuk disiplin anak adalah dialog untuk mencari tahu mengapa perilaku mereka tidak seperti yang seharusnya.Setelah Anda menemukan alasan si kecil, kemudian bantu ia mengembangkan rencana untuk mengatasi masalah yang menjadi alasannya tersebut.

10. Membandingkan Anak.

Anda mungkin berpikir hal ini bisa memotivasi anak secara positif. Akan tetapi, sebaliknya, perbandingan hanya menumbuhkan kebencian. Cobalah untuk melihat setiap anak sebagai individu yang unik dengan bakat dan kekuatannya masing-masing.

Sebarkan Kebaikan Anda
Responsive image
GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi
Kantor Layanan
Jalan Raya Jambangan No.135-137 Surabaya
(031)8283488
08113251112
genota@yatimmandiri.org
Ikuti Kami