Card image cap
Mengatasi Anak Yang Tidak Nurut Orang Tua

GENOTA.ID - Suatu hari ngobrol dengan seorang ibu muda yang anaknya masih kelas 2 SD. Rupanya dia kesal sekali karena anaknya makin sering menunjukkan sikap “tidak nurut” perintahnya.

Disuruh mandi, minta waktu lebih banyak untuk main. Disuruh makan, bilang “masih kenyang” terus. Disuruh tidur, malah menggoda adiknya terus. Lalu saya tanya, apa yang dia inginkan?

Dia menjawab, “Saya inginnya anak nurut, bu. Capek kalau dia terus melawan saya,” demikian katanya sambil menampakkan muka kesal. Ujung-ujungnya, ibu itu bercerita, bahwa gara-gara anaknya sering tidak nurut, dia menghukumnya. Repotnya, setelah menghukum, dia merasa sedih.

Anak tidak nurut, susah dikasih tahu, memang sering bikin jengkel. Biasanya orang tua membentak, memarahi, atau memberi hukuman. Sudah tepatkah hukuman yang kita berikan kepada anak?

Hukuman biasanya diberikan agar anak jera dan berhenti melakukan perilaku yang tidak diharapkan. Namun hukuman tidak selamanya baik, apabila hukuman yang diberikan tidak ada hubungannya dengan perilaku anak.

Kadang-kadang, hukuman merupakan pelampiasan dari kemarahan orang tua. Misalnya anak nakal, sebagai hukuman uang jajannya dikurangi. Apa hubungannya?

Dalam memberi hukuman, orang tua perlu hati-hati. Karena hukuman yang tidak tepat dapat menyebabkan tingkah laku buruk anak makin kronis. Jadi hukuman yang diberikan harus berkaitan dengan perilakunya.

Ketika memberi hukuman, yang paling penting adalah orang tua memperkenalkan konsekuensi. Konsekuensi alami dan konsekuensi logis dari perilaku yang ia tampilkan. Misalnya anak tidak mau mandi pagi di akhir pekan. Konsekuensi alaminya kalau tidak mandi berarti bau, badannya kotor, dan lain-lain. Sedangkan konsekuensi logisnya adalah karena tidak mau mandi, jadi belum siap untuk pergi, maka ditinggal ayah, ibu dan kakak pergi ke mall.

Dalam menerapkan konsekuensi, orang tua perlu konsisten, jangan karena alasan tidak tega atau kasihan jadi kehilangan kepercayaan dan kewibawaan di hadapan anak.

Punishment biasanya diberikan kalau perilaku anak tidak sesuai harapan. Tapi ada juga reward yang biasanya diberikan saat anak melakukan hal yang baik. Namun, seringkali orang tua salah kaprah tentang pemberian reward kepada anak.

Reward atau hadiah memang dapat memantapkan perilaku yang kita harapkan dari anak. Tapi ada dampak negatifnya juga. Kalau terlalu sering memberi reward, kita jadi membiasakan anak memperoleh upah dari apa yang dia lakukan.

Tidak heran, kalau anak sekarang selalu tawar-tawaran kalau diminta mengerjakan sesuatu. Misalnya: aku mau nganterin mama kepasar, tapi nanti aku boleh nonton tv sampai malem ya.

Bagaimana agar reward jadi hal yang positif? Jadikan reward sebagai surpise atau kejutan. Jadi reward diberikan setelah anak menampilkan perilaku yang kita harapkan dan tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.

Beritahu anak apa yang sudah ia lakukan, sehingga diberi hadiah. Hal ini diharapkan dapat membuat anak mengulangi lagi perilaku tersebut. Selamat mengasuh dengan benar dan menyenangkan.

Sebarkan Kebaikan Anda
Responsive image
GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi
Kantor Layanan
Jalan Raya Jambangan No.135-137 Surabaya
(031)8283488
08113251112
genota@yatimmandiri.org
Ikuti Kami