Card image cap
Melindungi Anak Dari Kejahatan Seksual

GENOTA.ID - Peristiwa kejahatan seksual pada anak akhir-akhir ini amat bertubi-tubi. Setiap hari sepertinya tiada hari tanpa berita semacam itu. Bagi kami, sebenarnya kejadian seperti ini sudah kami sadari beberapa tahun terakhir. Kami melakukan content analysis berita online, dan tampak bahwa kejadian ini pernah terjadi di hampir semua propinsi di Indonesia.

Bahkan dalam perjalanan kami selama ini ke berbagai kota, termasuk kota kecil, untuk memberikan seminar atau pelatihan parenting, selalu bertemu dengan cerita-cerita yang mirip. Kejahatan seksual pada anak tidak pandang tempat, tidak pandang siapa yang menjadi korban atau pelaku. Bahkan usia pelaku dan korban pun semakin lama semakin muda. Mengapa ini bisa terjadi?

Melihat berbagai kasus yang ada, dugaan kami makin kuat bahwa fenomena ini tak lepas dari makin merebaknya akses masyarakat pada pornografi, terutama pornografi melalui internet. Orang dewasa atau anak yang pernah mengakses pornografi punya peluang untuk kecanduan, dan mereka yang kecanduan berpeluang untuk mengalami kerusakan otak, khususnya Pre Frontal Cortex.

Yakni otak bagian kanan atas alis, yang berfungsi sebagai direktur bagi manusia dan membedakannya dengan binatang. Jika bagian otak tersebut rusak, bisa dibayangkan perilaku seperti apa yang bisa terjadi pada penderitanya. Salah satunya kemungkinan adalah kejahatan seksual termasuk pedofilia ataupun incest.      

Bagaimana mencegah kejahatan seksual terjadi pada keluarga kita atau lingkungan kita? Yang pertama adalah mencegah anak-anak menjadi pecandu pornografi. Anak yang sudah memegang gadget dan tersambung ke internet perlu diajak bicara, tentang betapa gadget harus digunakan sesuai manfaatnya, bukan mudaratnya.

Mereka juga perlu menjaga matanya agar melihat hanya hal-hal baik dan bermanfaat, dan memalingkan muka jika bertemu dengan hal-hal buruk seperti pornografi. Saat ini pemasar pornografi memang amat pandai, gambar bisa saja muncul pop-up tanpa diminta, atau tiba-tiba muncul di akun sosial media anak kita dan sulit untuk menghindarinya.

Pornografi bisa juga muncul dalam bentuk teks, biasa disebut sexting (text message yang berisi kata-kata porno) atau fan fiction (cerita pendek karangan fans sebuah karakter dengan mengembangkan karakter tersebut).

Yang kedua, orang tua memang harus mengembangkan pola komunikasi yang mendekatkan orang tua ke anak, sehingga anak menjadi nyaman berada bersama orang tua dan mau menuruti pesan orang tua tanpa merasa takut atau dipaksa. Anak-anak juga perlu diajarkan mendeteksi orang-orang di sekitarnya yang bertindak tidak pada tempatnya dan menjurus ke kejahatan seksual. Mereka juga harus diajarkan mengatakan ‘TIDAK’ pada bujukan atau rayuan yang bisa menjerumuskan ke hal tersebut.

Pengalaman kami membantu Pemda Sukabumi melakukan trauma healing pada korban pedofil Emon, menemukan hal-hal mendasar yang memberi peluang pada Emon untuk menjalankan aksinya. Sebagian korban tinggal bersama kakek-nenek atau paman karena orang tua bekerja di luar kota atau jadi buruh migran di luar negeri. Tak sulit menebak, bahwa anak kurang merasakan kehangatan, kasih sayang, maupun kepedulian dari orang tua atau pengasuh.

Korban umumnya menjadi korban kekerasan kata atau fisik di rumah. Keadaan kekurangan kasih sayang ini membuat korban mencari kasih sayang dalam bentuk lain dari orang lain. Ditambah, mereka tidak pernah dapat pembelajaran mengenai orang yang mungkin saja melakukan kejahatan seksual pada mereka, lengkaplah sudah peluang Emon melakukan perbuatannya.

Perlu Anda ketahui, dalam melakukan sepak terjangnya, Emon tidak selalu menggunakan ancaman. Dia lebih banyak menggunakan pendekatan yang menyenangkan. Artinya mengajak main, membantu mengerjakan PR, memberi hadiah, bahkan mengajari anak-anak jurus silat, hal yang sangat dikagumi anak laki-laki.  

Bukankah yang Emon lakukan seharusnya dilakukan oleh bapak ibu mereka? Jika kita sebagai orang tua mengabaikan melakukan pengasuhan yang benar, baik dan menyenangkan pada anak-anak kita, predator di luar sana siap menggantikan peran kita. Relakah kita ? 

Sebarkan Kebaikan Anda
Responsive image
GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi
Kantor Layanan
Jalan Raya Jambangan No.135-137 Surabaya
(031)8283488
08113251112
genota@yatimmandiri.org
Ikuti Kami