Card image
Ucapan Kita Adalah Doa Bagi Anak

GENOTA.ID - Suatu hari, saya kedatangan sahabat lama, ternyata dia tidak sendirian. Tapi dengan anaknya yang berumur sekitar 4 tahun. Ketika saya suruh masuk, rupanya si anak tidak mau diajak masuk. Spontan sahabat saya ini berujar, “Sita ini memang pemalu sekali.” Saya langsung menggarisbawahi ucapan sahabat lama saya tadi. Tapi saya tidak langsung meresponnya.

Selama kami ngobrol, saya perhatikan si anak terus menempel dengan bundanya. Kami ngobrol banyak hal. Sampai akhirnya teman saya ini berkeluh kesah tentang anaknya yang sangat pemalu dan pasif. Hmm sebenarnya pertanyaan ini yang saya tunggu dari tadi.  Saya katakan kepada sahabat saya, bahwa pada saat mau masuk kerumah saya, dia sudah menginstallkan sugesti negatif kepada anaknya, dengan ucapan pemalu. Saya jelaskan kepadanya tentang cara kerja otak, saya jelaskan juga tentang kata-kata positif dan negatif.

Dengan adanya kata-kata positif yang selalu ia terima dan cerna, sugesti tersebut akan terinstall dalam memori bawah sadarnya. Kondisi lainnya yang memudahkan proses memasukkan sugesti positif adalah saat anak akan tidur. Dampingi mereka, installkan sugesti positif kepadanya. Seperti, “Jadilah anak yang shaleh dan shalehah, yang pintar, dan lainnya”.

Saat seorang ibu berteriak ‘dasar anak bodoh’ pada anaknya ketika anak melakukan kesalahan, menangis, dan merasa sedih sekali, perkataan ibu itu akan membekas dan membuat anak mensugesti dirinya sendiri sebagai anak yang bodoh. Akibatnya anak justru bisa bertambah malas dan menjadi rendah diri.

Karenanya, orang tua harusnya senantiasa berbicara yang positif kepada anak. Hindari sugesti-sugesti negatif, bahkan meskipun tujuannya baik. Misalnya, untuk menyuruh anak membersihkan kamarnya, orang tua tidak perlu mengatakan, “Ayo bersihkan kamarmu yang seperti kandang ayam ini.”

Contoh sugesti negatif lain ialah penggunaan kata jangan. “Jangan bayangkan gajah putih” . Saat membaca tulisan ini justru alam bawah sadar kita akan membayangkan gajah putih, kan? Pilihlah kalimat seperti “Buanglah sampah pada tempatnya” ketimbang “Jangan buang sampah sembarangan.”

Contoh lain, bila anak takut dengan kecoa atau binatang lainnya, biasanya orang tua akan selalu berkata, ”Jangan takut!” Padahal, semakin sering kata takut didengar anak, semakin sering pula kata tersebut terekam di otaknya. Hasilnya, anak akan semakin takut. Lebih baik orang tua menggunakan kalimat positif seperti, “Adek cuma geli kan sama kecoa, adek anak pemberani, yuk kita lihat dari jauh”. Intinya adalah mengganti kata “jangan” atau “tidak boleh” dengan kalimat positif tanpa mengurangi maknanya.

Sungguh, kata-kata seperti, “Jangan nakal, jangan main air, jangan panjat-panjat, jangan ini, jangan itu!” Yang hampir setiap hari didengar anak akan menjadi penghambat kreativitas anak. Anak akan semakin membangkang, atau bahkan semakin pasif dan penakut. Tetapi bukankah orang tua juga perlu melarang anaknya apabila melakukan sesuatu tindakan yang salah ? Tentu saja, namun ada caranya.

Tetapi bagaimana mungkin? Kebiasaan melarang anak dengan kata “jangan” rasanya sudah mendarah daging dalam diri banyak orang tua. Sesungguhnya semua hal bisa berubah, asalkan ada niat, motivasi, serta usaha keras dari orang tua. Bila orang tua berpikir anak merupakan titipan Allah dan yakin anak adalah amanah yang harus dijaga dan dipelihara baik-baik. Sungguh sebuah dosa bila orang tua tidak memberikan yang terbaik bagi anaknya. Terlebih, melihat masa depan yang unpredictable, tantangan kehidupan pasti akan jauh lebih berat. Semua ini dapat menjadi motivasi yang kuat bagi orang tua.

Berat ya jadi orang tua? Siapa yang bilang mudah? Anak itu amanah atau sesuatu yang dipercayakan kepada kita, tapi bukan milik kita. Jadi memang berat atau tidak mudah menjadi orang tua. Jika menemukan kesulitan dalam menghadapi anak, janganlah berputus asa, bersabarlah, teruslah berusaha dan berdoalah selalu agar kita diberi kekuatan dan kemampuan sebagai orang tua yang baik bagi anak anak kita. Wallahualam bishawab.(*)

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi