Card image
Stop Salahkan Anak

GENOTA.ID - Ironis. Mungkin kata inilah yang pantas diucapkan saat kita menyaksikan semakin meningkatnya kasus-kasus kriminal yang melibatkan anak-anak berusia dibawah umur. Mulai dari kasus pencabulan, pelecehan, pemerkosaan, bahkan sampai yang berujung pembunuhan dengan korban anak-anak. Belum lagi kasus-kasus kejahatan seksual yang pelakunya justru adalah anak-anak dan remaja.

Hal ini sejalan dengan data yang diungkap oleh Metro TV, yaitu dari 2637 kasus kejahatan yang terjadi pada tahun 2012, 62%-nya merupakan kasus kekerasan seksual terhadap anak. Yang mengkhawatirkan dan membuat miris adalah, mengapa tingginya angka kekerasan seksual ini tidak menimbulkan reaksi masyarakat?  

Coba bandingkan reaksi masyarakat terhadap kekerasan seksual di India, yang dalam budayanya masih mendiskriminasi kaum perempuan saja, masyarakatnya bisa tergugah dan tergerak untuk menggugat bahkan menekan pemerintah untuk melindungi kaum perempuan dan anak-anak.
Kasus pemerkosaan seorang mahasiswi yang berujung kematian sang korban membuat masyarakat India turun ke jalan menuntut keadilan dan perlindungan bagi kaum perempuan dan anak-anak.

Bagaimana dengan negeri ini? Jangan sampai masyarakat menjadi “mati rasa” dan menganggap berbagai pemberitaan mengenai kejahatan seksual terhadap perempuan dan anak-anak hanya sebagai berita saja.

Semestinya, media punya peran lebih aktif dan signifikan dalam masyarakat daripada sekedar hanya memberitakan saja. Media dalam pemberitaan sebaiknya tidak hanya memosisikan pelaku (anak-anak remaja) sebagai pihak yang harus diadili secara hukum dan moral sendirian.

Namun media juga perlu mengkritisi peran orang tua para pelaku sebagai pengasuh utama anak-anak mereka. Apa saja yang sudah dilakukan orang tua –orang tua ini hingga anaknya bisa mencuri, melecehkan, kecanduan pornografi, kecanduan narkoba, memerkosa, bahkan membunuh orang lain?

Fenomena menyedihkan yang terjadi saat ini akibat beberapa hal, yaitu:  
1. Para orang tua tidak siap dan tidak pandai dalam mengemban amanah sebagai orang tua. Masih banyak orang tua yang enggan, bahkan cenderung kurang peduli dalam membangun komunikasi yang baik dan menyenangkan dengan anak-anak mereka. Yang terjadi akhirnya, anak mencari perhatian dan kenyamanan diluar rumah.

2. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan dirumah. Kenakalan anak-anak dan remaja yang terjadi dimasyarakat kebanyakan dilakukan oleh anak laki-laki. Mengapa? Karena anak laki-laki tidak mendapatkan role model atau teladan dari para ayah mereka dirumah. Anak laki-laki tidak dijadikan prioritas untuk dididik sebagai anak yang memiliki rasa tanggung jawab dan dididik sebagai orang yang kelak akan menjadi kepala orang tua.

3. Kurangnya introspeksi para orang tua terhadap diri sendiri. Andai setiap orang tua mau sejenak merenung mengenai peran dan tanggungjawab, serta mampu menganalisa kekurangan dirinya sendiri, tentulah komunikasi pengasuhan anak yang baik dan benar akan diutamakan menjadi prioritas.

4. Kurangnya kesadaran dan pemahaman bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus kita besarkan, asuh, dan didik dengan benar dan baik sesuai agama dan keyakinan kita masing-masing. Dan kelak, setiap orang tua harus mempertanggungjawabkan hal ini pada Sang Pencipta.(*)

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi