Card image
Menyiapkan Pemimpin Masa Depan

GENOTA.ID - Pada hakikatnya, setiap manusia adalah seorang pemimpin yang tidak lepas dari tanggung jawab. Apapun perbuatan yang telah dilakukan, termasuk perbuatan baik maupun buruk, akan tetap dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri.

Dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda, “Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Muslim, 3408)

Berdasarkan hadis tersebut, jabatan apapun yang kita miliki, sesungguhnya mengandung tanggung jawab. Meskipun jabatan itu adalah staff, asisten atau bahkan seorang budak sekalipun. Jadi, pemimpin tidak hanya sekedar orang yang menjabat sebagai Presiden, Direktur dan Ketua. Namun, setiap orang merupakan pemimpin yang  bertanggung jawab atas perbuatannya.

Sayangnya, masih ada pemimpin yang memanfaatkan jabatan tersebut untuk kepentingan pribadi, seperti melakukan tindak korupsi. Akibatnya, akan merugikan orang lain. Bahkan perbuatan tersebut, juga dapat menghancurkan sebuah negara.     

Sungguh betapa besar dampaknya jika seorang pemimpin menyalahgunakan jabatannya dan bersikap tidak adil. Maka dari itu, alangkah baiknya jika kita sebagai pemimpin juga memperbaiki diri, sekaligus menyiapkan pemimpin masa depan yang baik sejak sekarang. Sehingga dapat membentuk keluarga, masyarakat dan negara yang lebih baik.

Menyiapkan Pemimpin Masa Depan
Untuk menyiapkan seorang pemimpin di masa depan, tentu dibutuhkan pengarahan dan bimbingan sejak usia dini. Dalam hal ini, anak-anak maupun pemuda-pemudi merupakan aset penting penerus bangsa yang akan menggantikan peran pemimpin yang terdahulu.

Namun sebelumnya, mereka perlu dibentuk dan diarahkan agar menjadi pemimpin yang arif dan bijaksana. Tidak bisa dibentuk secara instant. Mereka membutuhkan proses dan berbagai pembinaan hingga menjadi pemimpin yang berkualitas.

Berikut ini beberapa cara untuk membentuk karakter kepemimpinan yang baik:
1. Menanamkan Akhlak Baik.
Menanamkan akhlak yang baik merupakan hal yang sangat penting dalam menyiapkan calon pemimpin masa depan. Sebab, tanpa ada akhlak yang baik, tentu akan buruk pula kepemimpinannya. Seperti korupsi merajalela, tindak kekerasan, penganiayaan dan sebagainya.  
Adapun sifat yang perlu ditanamkan yaitu Siddiq (jujur), Tabligh (penyampai yang baik dalam berkomunikasi), Amanah (bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya), dan Fathonah (cerdas dalam membuat rencana dan menghadapi permasalahan). Selain itu, sikap adil juga perlu ditanamkan dalam diri seorang pemimpin, sehingga termasuk manusia yang dicintai oleh Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah pada hari kiamat dan yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci Allah dan sangat jauh dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim.” (HR. Turmudzi)

2. Memberikan Teladan Yang Baik.
Pada dasarnya, setiap orang merupakan pemimpin atas dirinya masing-masing, dan tentunya apa yang telah diperbuat juga mengandung resiko tertentu. Sebagai orang yang lebih tua, terkadang tanpa disadari orang yang lebih muda akan belajar dan meniru cara orang yang lebih tua. Maka dari itu, ada baiknya bahwa orang yang lebih tua memperbaiki sikapnya agar menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang lebih muda.

3. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab.
Setiap pemimpin pasti memiliki suatu tanggung jawab, maka rasa tanggung jawab perlu ditanamkan kepada calon pemimpin sedini mungkin. Misalnya, seorang ibu  membimbing anaknya untuk bertanggung jawab merapikan tempat tidurnya setelah bangun tidur. Dengan memberikan pemahaman dan melatih anaknya setiap hari, maka lama kelamaan sang anak dapat melakukannya sendiri dengan baik.

Dalam hal ini, ada baiknya guru atau orang tua tidak hanya melarang atau mengatur anak, namun hal yang lebih penting adalah menjelaskan alasannya dan konsekuensi jika melakukan hal tersebut. Dan jika murid atau anak melanggar aturan, maka ajari makna konsekuensi untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman.  

4. Pendidikan Yang Tepat.
Berikan pendidikan agama maupun ilmu pengetahuan umum yang tepat kepada calon pemimpin agar mereka memperoleh wawasan yang luas. Selain itu, ada baiknya juga jika calon pemimpin belajar dari kehidupan, seperti berinteraksi dan berkomunikasi langsung terhadap masyarakat agar mendapat pengalaman maupun hikmah dari permasalahan yang ada.   

5. Mendahulukan Kepentingan Orang lain.
Seorang pemimpin harus memperhatikan kepentingan umum dan melayani kebutuhan orang lain. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW, Abu Maryam al’ azdy ra. berkata kepada Muawiyah, “Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda”, “Siapa yang diserahi oleh Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, yang kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka Allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari kiamat. Maka kemudian Muawiyah mengangkat seorang untuk melayani segala kebutuhan orang-orang (rakyat).” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)   

Semoga dengan meneladani Rasulullah SAW dan menanamkan akhlak mulia sedini mungkin, dapat mencetak pemimpin yang lebih baik. Ingatlah, bahwa setiap orang adalah pemimpin yang nantinya akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya dihadapan Allah SWT. Mari perbaiki diri dan berusaha menyiapkan pemimpin masa depan dari sekarang. Wallahu a’lam bisshowab.(*)

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi