Card image
Menggapai Sebuah Cinta

GENOTA.ID - Kata cinta mungkin sudah akrab terdengar ditelinga kita. Bahkan semua orang juga pernah merasakan yang namanya cinta. Setiap individu punya rasa cinta yang bisa ditujukan pada berbagai hal pada umumnya. Seperti anak, harta, wanita, rumah, jabatan dan lainnya. Tapi ketahuilah, bahwa Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang muslim kepada Allah SWT.   

Allah SWT berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali-Imran: 14)

Jika rasa cinta telah sesuai dengan jalan yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Tapi sebaliknya, jika tidak sesuai dengan ridha-Nya maka menjadi perbuatan maksiat. Jadi jelas bahwa cinta adalah ibadah hati yang bila keliru menempatkannya akan menjatuhkan kita ke dalam sesuatu yang dimurkai Allah, yaitu kesyirikan. Mendasarkan cinta kepada orang lain karena Allah SWT, tentu akan mendapatkan kemuliaan dan nilai di sisi-Nya. Cinta yang dibangun karena Allah akan menghasilkan kebaikan yang sangat banyak dan berharga.

Ibnul Qayyim menyatakan perwujudan cinta kepada Allah, yakni dengan membaca, menggali dan memahami Al-Quran, mengerjakan amalan sunnah setelah amalan wajib, berdzikir dalam setiap keadaan, mengutamakan kecintaan kepada Allah SWT di atas kecintaanmu ketika bergejolaknya nafsu dan tunduknya hati dihadapan Allah SWT. Lalu duduk bersama orang-orang yang memiliki sifat cinta dan jujur serta menjauhkan segala hal yang menghalangi hati dari Allah SWT.

Jadi cinta merupakan salah satu dari ibadah hati yang memiliki kedudukan tinggi dalam agama, sebagaimana ibadah-ibadah yang lain. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah.”(Al-Baqarah: 165).

Selain itu, yang paling penting adalah, kita harus berusaha supaya Allah mencintai kita. Nah, untuk mendapatkan kecintaan Allah, tentunya kita harus mengikuti Rasulullah SAW, yakni mengikuti sunnah-sunnah beliau. Yakni apa-apa yang disandarkan kepada Beliau, baik ucapan, perbuatan, persetujuan dan sifat beliau. Yang meliputi aqidah, ibadah, akhlak dan mu’amalah. Ada yang sifatnya wajib dan ada yang sunnah. Yang wajib berarti harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sedangkan yang sunnah, semaksimal mungkin dilaksanakan.

Mencintai Allah SWT, bisa dipelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh alam semesta. Bentuk pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini, dapat kita wujudkan dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.  

Apabila cinta manusia kepada Allah semakin lekat, maka kepatuhan dan ketaatan kepada-Nya semakin bertambah dan kuat, sehingga dengan sendirinya mereka ridha mengorbankan apa saja yang ada pada dirinya untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah SWT. Waktunya, pikirannya, perasaannya, tenaganya, hartanya, bahkan jiwanya tak segan-segan dipertaruhkan. Itulah yang dibuktikan para sahabat yang mencintai Allah SWT melebihi segala-galanya.

Banyak orang mengaku telah mencintai Allah, tetapi sudah benar-benar mulia dan murnikah cintanya kepada Allah SWT. Untuk itu, seseorang dituntut selalu ikhlas menerima apapun yang telah diberikan Allah kepadanya, dan harus rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah serta harus berpegang erat-erat kepada apa yang membawanya lebih dekat kepada Allah SWT. Jika kecintaan kepada Allah benar-benar menguasai hati manusia, maka semua cinta kepada yang lain pun akan hilang. Dan jika kecintaan kepada Allah SWT telah sempurna, maka tidak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah hanya kepada Allah SWT.

Cinta pada manusia yang melebihi cinta kepada Allah, merupakan salah satu penyebab doa tak terjawab dan awal sebuah malapetaka. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika mentari muncul, ia melakukan maksiat. Bagaimana mungkin doa seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga. Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah, pendidikan anak terabaikan dan kasih sayang tak tercurahkan.

Cinta pada Allah tak akan membuat hati menjadi buta. Tetapi ia tak bisa disandingkan dengan cinta pada makhluk. Justru keseluruhan cinta bermuara dari cinta pada Allah. Jika kecintaan pada Allah sudah mendominasi seluruh hati dan elemennya, maka pikiran dan anggota badanlah yang akan melakukan pengorbanan untuk membuktikan rasa cinta itu.

Nah, untuk memupuk rasa cinta kepada Allah SWT, maka bisa dilakukan dengan:
1. Secara rutin mengerjakan ibadah wajib.
Orang yang mendirikan shalat, senantiasa mendatangi masjid dan melaksanakan secara sempurna ibadah lahiriyah yang wajib. Karena dengan ibadah wajib adalah jalan utama menuju kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Tak ada cara yang lebih Aku sukai dari hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku, daripada ibadah yang Aku wajibkan kepadanya.”(Bukhari no.6355).
Sementara itu, orang yang tidak secara rutin mengerjakan ibadah wajib, layak menangisi dirinya sendiri. Dia harus sadar bahwa dirinya tidak punya tempat di sisi Allah dan tidak punya kedudukan diakhirat. Nasib yang seperti ini hanya dialami oleh orang yang munafik, fasik dan durhaka. Kita harus berlindung dari keadaan yang demikian.

2. Membaca dan merenungkan Al-Quran.
Sebab, Al-Quran merupakan firman Allah di muka bumi, juga bisa menjadi alat ukur untuk mengetahui kadar keimanan seseorang. Orang yang senang membaca dan merenungkan Al-Quran serta mengamalkannya, maka ketahuilah bahwa dia adalah orang yang sangat dekat kepada Allah.

3. Selalu senantiasa berdzikir kepada Allah SWT.
Dengan berdzikir kepada Allah SWT akan mampu mendatangkan perlindungan dari-Nya, dan dapat melahirkan ketaatan dan ridha, serta dapat menjauhkan dari murka Allah SWT. Manfaat dzikir yang paling besar, yakni menjauhkan seseorang dari sifat munafik.   

4. Mengutamakan apa yang dicintai-Nya dari apa yang engkau cintai pada saat hawa nafsu menguasai.
Allah SWT berfirman, Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. (QS. Al-Taubah: 24).
Maka seseorang harus  mengutamakan apa-apa yang dicintai dan diinginkan oleh Allah dari apa-apa yang dicintai dan diinginkan oleh hamba. Maka dia harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah dan membenci apa-apa yang dibenci oleh Allah, dia berloyalitas karena Allah dan memusuhi seseorang karena Allah.

5. Hati menyadari makna yang terkandung dalam asma dan sifat Allah SWT, dan dia bersaksi atas kebenarannya serta melandasi hidupnya  dengan kesadaran dan cakupan asma dan sifat Allah SWT tersebut.

6. Bersaksi atas kebaikan Allah dan anugrah-Nya serta nikmat-Nya yang zahir dan bathin.
Allah SWT berfirman, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan." (QS. Al-Nahl: 53).
Diantara anugrah besar yang diberikan oleh Allah adalah nikmat petunjuk kepada agama ini. Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al-Ma’idah: 3).

7. Menjauhi segala perkara yang menghalangi antara hati dengn Allah SWT.

8. Sering berkumpul dengan orang-orang yang shalih dan jujur.

Jadi kesimpulannya, wajib bagi tiap muslim yang berakal sehat untuk mencintai apa yang dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya. Serta membenci apa yang dibenci Alah SWT dan Rasul-Nya. Dengan demikian ia akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan yang besar.(*)

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi