Card image
Gunakan Cinta dan Logika Yang Benar Pada Anak

GENOTA.ID - Ayah, ibu dan para orang tua yang saya cintai, saat ini anak-anak kita sudah bisa dengan mudah mengakses video yang tidak patut sedemikian rupa. Bahkan, jika Anda pernah mendengar beritanya, beberapa bulan lalu terungkap peristiwa anak-anak SMP memproduksi sendiri video sejenis itu, secara berkelompok, tempatnya di sekolah.


Marilah kita menyadari, bahwa dengan kecanggihan yang anak-anak kita miliki sekarang ini, kemungkinan besar anak-anak kita sudah pernah melihat video porno. Atas dasar dugaan itu, saya berfikir perlu mengajak Anda, saudara-saudara saya, walau kita mungkin berbeda suku bangsa dan agama, untuk segera memperhatikan anak-anak kita, khususnya yang masih SMP ini.


Tekanan dari teman dan tekanan rasa ingin tahu dari dalam diri mereka sendiri yang memang khas untuk usianya, serta hasrat yang luar biasa yang datang dari cairan kimia otak bernama Dopamin yang berproduksi ketika dia melihat pornografi pertama kali, akan mendorong anak kita secara alami untuk melihatnya lagi dan lagi dan lagi. Semakin lama, apa yang mereka ingin lihat bukanlah gambar yang sama, tetapi yang lebih meningkat dari itu.

Menurut ahli psikiatri, Victor B Clein, mengatakan bahwa tahapan orang melihat pornografi itu adalah sebagai berikut :
- Kecanduan: begitu melihat karena otak memproduksi Dopamin, yang membuat orang fokus, euphoria/ecstasy dan kecanduan.
- Peningkatan: mau melihat yang lebih.
- Disensitisasi: tidak tertarik lagi dan jadi tidak sensitif dengan gambar yang sama.
- Acting Out sexually: Melakukan hubungan suami istri.

Anak-anak kita kan cuma pinjaman untuk kita besarkan, asuh, nikmati dan sewaktu-waktu harus dikembalikan pada pemilikNya. Dulu kita mendapatkannya bagus, utuh, apakah kita tidak malu memulangkannya ke Penciptanya kelak dalam keadaan bonyok  (jiwa ataupun otaknya).

Jika mereka sudah melihat, bahkan terindikasi kecanduan pornografi, maka marilah kita bicara dengan mereka untuk mengarahkannya, mungkin juga memperbaiki atau menyempurnakan pikiran, sikap atau kebiasaannya ke arah yang lebih baik.

Bicara tentang seksualitas memang tidak mudah, tetapi harus. Anak Anda harus tahu batasan dan terlebih lagi dia harus tahu dimana Anda berdiri, apa prinsip hidup Anda. Dunia sedang berubah dengan cepat, seiring dengan itu norma-norma juga berubah dengan pesat. Sesuatu yang tadinya termasuk dalam kategori yang kita sebut menyimpang, kini dirumuskan menjadi hak azasi manusia.  Maka sejak awal Anda harus punya pegangan yang jelas, apa dasar dan konsekuensi dari sikap Anda dan norma-norma yang Anda anut dan ingin Anda sampaikan kepada anak- anak Anda. Gunakan

Cinta, Tapi Juga Logika Yang Benar
Perlu Anda sampaikan kepada anak, bahwa Anda sangat mencintainya, dan  Anda berharap ia akan menikah suatu saat, dengan benar. Jadi sampaikan bahwa Anda sebagai orang tua mengharapkan mereka memelihara kesucian dirinya sampai ia serahkan pada pasangannya yang sah melalui perkawinan, karena Allah SWT, bukan karena nama baik keluarga .

Banyak sekali riset menunjukkan bahwa bila seorang anak sempat diajak bicara oleh orang tua terutama ayahnya tentang masalah pergaulan dan seks, dan orang tuanya dengan gamblang menjelaskan dan menyatakan sikap hidupnya dan apa yang mendasarinya, maka anak tersebut lebih tangguh menghadapi godaan seks bebas atau menyimpang begitu dia keluar dari pintu rumah.

Saya memahami, bagi Anda yang tidak biasa berdialog dengan anak-anaknya, apa yang saya usulkan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Tapi dengan mengingat dari siapa kita dapat pinjaman anak ini, dan bagaimana kita harus mempertanggungjawabkannya kelak, saya yakin Anda akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukannya. Otak suka hal yang positif maka kirimlah pesan ke otak Anda berkali-kali: “Saya bisa dan saya pasti bisa! Kan yang saya hadapi adalah anak saya sendiri. Lebih baik salah dari pada tidak sama sekali.”

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi