Card image
Filosofi Jagung

Oleh: Jamil Azzaini
GENOTA.ID - Beberapa waktu yang lalu, saya pulang ke Jakarta usai bertemu beberapa mitra bisnis di Medan. Di pesawat, duduklah seorang lelaki dan perempuan yang mirip bapak dan ibu saya. Kulitnya telah keriput, juga legam terbakar matahari. Saat itulah pikiran saya menerawang jauh ke masa lalu.

Saat kecil, saya sering menemani bapak ke sawah dan ladang. Saya ikut bapak menanam padi di sawah dan menanam jagung di ladang. Rumah kami ditengah hutan Lampung sendirian, atapnya dari ilalang, sedangkan dindingnya dari bambu yang kami anyam. Pengalaman itu sangat membekas kuat dalam kehidupan saya.

Diantara pengalaman yang berkesan adalah, saat kami menanam jagung. Bapak yang melubangi tanah, kemudian saya yang meletakkan bibit jagung ke dalam tanah sambil menutupnya kembali dengan tanah. Saat seperti itulah bapak saya sering bertutur, “Jamil, jagung itu harus kau tutup dengan tanah agar tidak dimakan burung atau ayam. Benih jagung itu tertutup tanah, dia harus menanggung beban tanah yang menimbunnya. Tetapi karena kau tutup itulah jagung akan tumbuh kemudian berbuah. Hasilnya bisa kita jual dan kita makan.”

Sambil terus menanam jagung, bapak saya melanjutkan ceritanya. Hidup kita saat ini seperti bibit jagung yang kau tutup tanah, tinggal di tengah hutan dan susah. Tapi ketahuilah anakku, suatu saat nanti kau akan tumbuh menghasilkan buah yang enak dimakan. Jadilah kamu bibit yang baik, bertahan dan bersabarlah atas segala kesulitan yang datang. Saat kau besar nanti, pasti akan menghasilkan buah yang sangat baik, anakku.

Bila jagung sudah tumbuh nanti, harus kau siram dan pupuk. Begitu pula hidupmu, anakku. Saat nanti kau sudah besar dan berhasil, kau harus tetap disiram dan dipupuk. Siramilah kehidupanmu dengan ayat-ayat Al-Quran, agar kehidupanmu selalu segar. Rendahkanlah dirimu, agar air itu datang menghampirimu. Karena tabiat air mendatangi tempat yang lebih rendah.

Pupuklah kehidupanmu dengan cara bersahabat dan bergaul bersama orang-orang yang shaleh dan baik. Perlakukan mereka seperti kau memperlakukan saudaramu sendiri. Kadang-kadang pupuk kandang itu aromanya tak sedap, tetapi itu menyuburkan tanah tempatmu tumbuh. Nanti, kau akan bertemu dengan teman yang mengkritik dan menyakitimu, anggaplah itu pupuk kandang buatmu.

Jagung bagi saya, bukan hanya makanan. Ada makna mendalam yang melekat di dalamnya. Kita harus menjadi benih unggul yang tidak boleh lupa disiram dan dipupuk agar menghasilkan buah yang berkualitas.

Terima kasih bapakku, akulah benih yang dulu bapak tanam. Semoga aku berbuah sesuai dengan harapan bapak. Dari atas pesawat jurusan Medan-Jakarta, kupersembahkan tulisan ini untukmu. Aku bangga kepadamu, I love you so much…
Salam SuksesMulia!

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi