Card image
Didiklah Anak Dengan Kasih Sayang

GENOTA.ID - Dengan bangga seorang teman berbicara, bahwa anak-anaknya begitu takut kepadanya. “Kalau saya suruh mereka belajar, mereka pasti akan belajar. Pokoknya apa yang saya suruh pasti mereka lakukan,” ujarnya.

Usut punya usut rupanya sang teman ini menerapkan disiplin kaku kepada anak-anaknya. Kalau tidak diikuti kata-katanya maka bentakan, makian dan tak jarang pukulan melayang ketubuh mungil si anak. Selang beberapa hari sejak pertemuan saya dengan beliau, saya bertemu lagi disuasana yang berbeda. Kali ini dia berkeluh kesah bahwa ternyata anaknya patuh, ketika dia ada dirumah. Namun ketika dia sedang keluar kota, maka istrinya yang kewalahan.

Mendidik anak memang suatu hal yang gampang-gampang sulit. Bila kita sebagai orang tua mendidik anak dengan benar, maka sang anak pun akan berkembang ke arah yang kita inginkan baik secara fisik, mental, spiritual dan intelegensia. Namun, bila sejak awal kita telah salah langkah dan tidak menyadari kesalahan tersebut, jangan heran bila kelak kemampuan dan tumbuh kembang anak kita tidak berkembang seperti yang diharapkan.

Sebenarnya sikap lemah lembut dan kasih sayang adalah modal utama dan kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak. Tapi kadang kita sering berdalih bahwa di zaman yang semakin kompleks ini cara yang benar untuk mendidik anak-anak kita adalah dengan cara disiplin. Benar memang, tapi bukan disiplin kaku. Beda mendidik anak-anak dengan keras dan mendidik dengan disiplin. Bukankah panutan kita Rasulullah SAW dalam mendidik anak-anaknya tidak pernah marah? Bahkan terhadap cucu-cucunya ?

Sikap lemah lembut dalam mendidik anak merupakan faktor yang sangat mendukung keberhasilan pendidikan anak. Orang tua selayaknya memahami bahwa anaknya bukanlah malaikat yang tidak pernah berbuat salah, dan bukan pula setan yang tidak memiliki sisi kebaikan.

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, tidak selayaknya orang tua langsung memberikan hukuman yang berat. Yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memberikan nasehat dan petunjuk, menjelaskan kesalahan sang anak dengan cara yang bijak, sambil memberikan keterangan tentang perilaku dan sikap yang benar. Setelah itu, memberikan bimbingan dan arahan.

Salah seorang ulama yang merupakan pakar sosiologi, Ibnu Khaldun, pernah mengingatkan bahaya sikap keras dan kasar dalam pendidikan. Dia menjelaskan bahwa pendidikan yang didasari oleh sikap kasar dan keras, seringkali menghasilkan manusia-manusia suka berbohong, munafik, dan memiliki kepribadian rapuh.

Ibnu Khaldun melanjutkan, jika kita sebagai orang tua bersikap kasar dan keras, sikap yang demikian seringkali mendorong anak menjadi pembohong dan suka memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang tersimpan. Hal itu dilakukan anak karena rasa takut terhadap sikap kasar dan keras orang tua. Jika dia telah mengetahui cara melepaskan diri dari hukuman (baik dengan berbohong atau perilaku negatif lainnya), maka lama kelamaan sikap yang demikian akan menjadi kebiasaannya.
Dengan demikian, rusaklah potensi nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya. Jika telah demikian, dia akan menyandarkan segala kebaikan atas usaha orang lain dan hilanglah jiwa kemandirian dalam dirinya. Akhirnya, sang anak tumbuh menjadi manusia yang malas dan tidak bersemangat dalam melakukan kebaikan.

Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kepercayaan, cinta, dan saling pengertian, jarang sekali bersikap khianat atau melanggar janji. Dia akan menjadikan kepercayaan sebagai sesuatu yang sangat penting dalam hidupnya. Dia akan tumbuh menjadi manusia yang mengusung kepercayaan diri, berterus terang, dan jujur. Rasa tidak sabar dan kesal kerap melanda orang tua ketika mengajari anaknya belajar. Namun, implikasi rasa kesal dan tidak sabar tersebut ternyata mampu memicu anak menjadi stres. Akibatnya, anak semakin tidak mampu menyerap informasi yang diberikan.

Studi terkini menyebutkan, orang tua yang bereaksi terlalu keras untuk mengoreksi kesalahan anak, misalnya dengan cara menampar atau memukul, tidak hanya menyebabkan anak stres tapi juga membuat tingkat kecerdasan (IQ) anak lebih rendah. Tentu kita tidak bermaksud untuk melakukan tindak kekerasan kepada anak, seperti memukul dan lain sebagainya. Barangkali, kita hanya bermaksud untuk menghentikan kebiasaan buruk anak anak kita, atau menekankan disiplin tentang suatu hal kepada anak kita. Kenyataannya tidak ada alasan pembenaran untuk hal yang satu ini. Kekerasan bukanlah cara yang benar untuk mendidik anak.

Anak-anak kita adalah peniru yang sangat baik. Jadi, bila kita ingin mengajarkan sesuatu kepada anak kita, cara yang sangat efektif adalah dengan memberinya contoh nyata dari perilaku kita sehari-hari. Kita tidak bisa membentak anak untuk belajar di malam hari, sementara disaat yang sama kita asyik nonton sinetron.

Intinya adalah ingin seperti apa anak-anak kita ,lakukan itu di depan mereka. Ya, sesederhana itulah dalam mendidik anak-anak kita. Tidak perlu membentak, tidak perlu memarahi, apalagi dengan cara cara  kekerasan. Namun, hal itu memang tidak mudah. Coba kita renungkan sebentar. Apakah kita sudah memberi contoh yang layak untuk anak anak? Apakah gambaran tentang "sosok ideal" yang kita harapkan pada anak kita, sudah ada pada diri kita? Wallahualam bi shawab. (*)

 

Sebarkan Kebaikan Anda

GenOTA.id

GenOTA (Gerakan Orang Tua Asuh) adalah Salah satu program dari LAZNAS Yatim Mandiri dalam bentuk kepedulian sosial untuk menjamin keberlangsungan pendidikan anak yatim dhuafa berprestasi